Palestina: Pernyataan pers oleh Perwakilan Tinggi/ Wakil Presiden Josep Borrell setelah pertemuannya dengan Perdana Menteri Otoritas Palestina Mohammad Shtayyeh
Check against delivery!
Terima kasih, Perdana Menteri [Otoritas Palestina, Mohammad Shtayyeh]. Terima kasih banyak atas pertemuan ini.
Saya sangat bahagia berada di sini di Ramallah dan dapat berbicara dengan anda, dan dengan Presiden [Mahmoud] Abbas dan Menteri Luar Negeri anda [Riyad Al] Maliki. Tapi seandainya saja kunjungan dilaksanakan dalam keadaan yang berbeda, di saat lain, karena [saat ini] kita sedang menyaksikan sebuah tragedi.
Uni Eropa adalah sahabat rakyat Palestina dan ketika saya mengatakan sebuah tragedi, saya mengacu pada apa yang terjadi di Gaza, apa yang terjadi di Israel, dan apa yang terjadi dengan situasi di Tepi Barat.
Di Gaza, sudah ada ribuan korban warga sipil, sekitar setengahnya adalah anak-anak. Ada kekurangan pangan, air, listrik, bahan bakar – semuanya. Kemarin, saya mendapat pengarahan oleh organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa yang bekerja di lapangan. Situasi ini kritis dari sudut pandang fungsi rumah sakit, dengan runtuhnya sistem kesehatan dan kurangnya obat-obatan dan pasokan medis.
Kita dapat mengatakan bahwa tanggal 7 Oktober - serangan teroris tanggal 7 Oktober - mengubah paradigma situasi yang sudah rapuh.
Pada tanggal 7 Oktober, setelah serangan Hamas, saya mengatakan bahwa Hamas telah merugikan rakyat Palestina dan perjuangan Palestina.
Tidak ada yang bisa membenarkan apa yang dilakukan Hamas terhadap orang-orang yang mereka serang dengan brutal dan menyandera perempuan, anak-anak dan orang lanjut usia, serta memprovokasi respons Israel yang begitu intens.
Setiap hilangnya nyawa warga sipil sangat menyedihkan. Kami mengutuk keras Hamas atas serangan terorisnya. Kami mendesak mereka untuk membebaskan para sandera dan memberikan akses segera kepada Palang Merah atau Bulan Sabit Merah. Saya bertemu dengan beberapa kerabat para sandera, yang menjelaskan kondisi kesehatan yang buruk dari para sandera.
Namun Uni Eropa juga dengan tegas menekankan bahwa cara Israel melaksanakan haknya untuk membela diri sangatlah penting. Bahwa Israel perlu menghormati hukum kemanusiaan internasional dan prinsip proporsionalitas. Saya menyampaikan pesan ini kemarin, secara tatap muka, dengan sangat jelas, kepada otoritas Israel yang saya temui.
Sebuah kengerian tidak membenarkan kengerian yang lain. Sahabat Israel adalah mereka yang meminta agar Israel tidak terdorong oleh amarah.
Uni Eropa – dan kini juga Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui resolusi terakhir Dewan Keamanan PBB yang diadopsi [sehari sebelum] kemarin – telah menuntut jeda kemanusiaan yang segera dan lebih banyak akses terhadap bantuan kemanusiaan, termasuk air dan bahan bakar, [sehingga] dapat menjangkau warga sipil di Gaza.
Kami, di Uni Eropa, sejak dimulainya kampanye militer Israel melawan Hamas, kami telah melipatgandakan empat kali lebih banyak bantuan kemanusiaan kepada warga di Gaza hingga hampir €100 juta dan telah meningkatkan pendanaan kami untuk UNRWA dengan tambahan €10 juta, sehingga pendanaan [menjadi] lebih dari €90 juta tahun ini. Namun kami tahu itu tidak cukup.
Kami tahu bahwa kebutuhan kemanusiaan sangat besar dan untuk menyediakan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh lebih dari dua juta orang merupakan upaya yang sangat besar. Dan komunitas internasional harus bisa memberikan bantuan ini.
Bapak Perdana Menteri,
Perang melawan Hamas di Gaza adalah akibat kegagalan politik dan kegagalam moral kolektif komunitas internasional. Kegagalan politik dan moral yang besar, yang harus dibayar mahal oleh bangsa Israel dan Palestina.
Hanya solusi politik yang dapat mengakhiri siklus kekerasan yang tidak pantas ini. Hanya solusi politik yang dapat menghentikannya. Itulah sebabnya saya melakukan kunjungan ini, dimulai dengan Israel [dan] diikuti oleh Ramallah untuk mengunjungi anda, Otoritas Palestina, untuk kedepannya bekerja dengan mitra kami dan melihat apa yang harus [dilakukan] agar perang ini berakhir dan bagaimana menciptakan masa depan yang lebih baik berdasarkan perdamaian.
Izinkan saya untuk mengemukakan beberapa gagasan mengenai upaya yang telah kita lakukan karena peristiwa mengenaskan ini, setidaknya, telah membawa isu Palestina keluar dari ketidakpastian. Tidak ada seorang pun yang menganggap serius masalah ini dan sekarang tidak ada solusi lain selain menanggapinya dengan sangat serius.
Dan kerangka mental ini, yang menurut saya harus kita upayakan, dapat saya rangkum dalam tiga jawaban “ya” dan tiga “tidak”.
Jawaban “tidak” yang pertama adalah: Tidak boleh ada pemindahan paksa warga Palestina di dalam dan dari Gaza. Tidak boleh ada pemindahan paksa warga Palestina keluar dari Gaza.
Tidak boleh ada perubahan teritorial. Tidak boleh ada pendudukan kembali oleh Israel maupun tempat berlindung bagi Hamas di Gaza.
Tidak boleh memisahkan Gaza dari masalah Palestina secara keseluruhan. Solusi di Gaza harus tertanam sebagai bagian dari solusi seluruh permasalahan Palestina. Jadi, tidak boleh ada pemisahan Gaza dari masalah Palestina secara keseluruhan.
Dan sekarang dengan jawaban “ya”.
Jawaban “ya” yang pertama adalah kembalinya Otoritas Palestina ke Gaza. Saya mengatakan “Otoritas Palestina” – maksudnya adalah anda. Anda sudah berada di sana. Anda tidak pernah meninggalkan Gaza. Anda telah memberikan layanan publik kepada masyarakat, dengan dukungan kami. Anda memiliki kapasitas untuk terus melakukan pekerjaan ini. Mungkin anda memerlukan dukungan dari komunitas internasional, tetapi Otoritas Palestina harus kembali ke Gaza.
Jawaban “ya” kedua adalah perlunya keterlibatan yang lebih kuat dari negara-negara Arab.
Dan yang ketiga adalah semakin besarnya keterlibatan Uni Eropa, khususnya dalam proses politik, dalam membangun negara Palestina.
Kami mempunyai pengalaman khusus dalam membangun kenegaraan di Eropa dan kami perlu memanfaatkan pengalaman tersebut untuk membangun Negara Palestina sebagai bagian dari solusi dua negara.
Namun kita tidak boleh melupakan situasi di Tepi Barat. Anda lebih mengetahuinya daripada saya. Saya juga berdiskusi dengan mitra saya dari Israel [Eli Cohen] kemarin, dan semua orang harus sadar bahwa ada peningkatan terorisme pemukim sejak 7 Oktober. Sejak awal tahun ini, 421 warga Palestina telah dibunuh di Tepi Barat. Sejak awal bulan Oktober – sejak tanggal 7 Oktober yang mengenaskan itu, angkanya adalah 202 orang. Artinya, sejak peristiwa mengenaskan tersebut, jumlah warga Palestina yang terbunuh di Tepi Barat sama dengan jumlah orang Palestina yang terbunuh di Tepi Barat di awal tahun hingga bulan Oktober. Hal ini telah meningkatkan jumlah warga yang terpaksa meninggalkan rumah mereka.
Saat ini, terdapat lebih dari 150 pemukiman ilegal Israel, yang tujuan utamanya adalah sebagai tempat persiapan para pemukim.
Kami telah mendesak pihak berwenang Israel untuk mengatasi masalah ini pada tingkat tertinggi untuk mencegah terjadinya kekerasan di Tepi Barat.
Dukungan kami kepada Otoritas Palestina, sebagai satu-satunya perwakilan rakyat Palestina, bersifat politis dan finansial. Kami adalah donor internasional terbesar bagi rakyat Palestina – dan kami akan terus memberikan kontribusi finansial terbesar bagi kerja Otoritas Palestina.
Karena perang ini telah menunjukkan kepada kita bahwa kita tidak bisa membiarkan masalah Palestina tidak terselesaikan. Betapapun tragisnya keadaan saat ini – dan sungguh sangat tragis – kita harus memanfaatkan momentum ini untuk berinvestasi dalam perdamaian dan berupaya mencapai solusi konflik.
Kita harus memobilisasi dukungan internasional terhadap proses politik menuju solusi dua negara – sebuah proses yang sudah terlalu lama diabaikan.
Solusi dua negara adalah satu-satunya jalan menuju perdamaian. Saatnya telah tiba untuk menentukan langkah-langkah konkrit yang harus diambil untuk melaksanakannya. Karena kita telah mengulangi selama bertahun-tahun – 30 tahun sejak perjanjian Oslo – “solusi dua negara”, tanpa melakukan apa yang diperlukan untuk menerapkannya dalam praktik.
Perdana Menteri, inilah pesan saya di Ramallah. Inilah yang saya katakan kemarin di Israel. Saya mengatakan hal yang sama, di kedua tempat. Ini adalah pesan yang saya bawa ke tujuan saya berikutnya, di Manama, di Riyad, di Doha dan di Amman.
Perdana Menteri, pada bulan September – ingat – di New York, kita meluncurkan Upaya Hari Perdamaian untuk mendukung dimulainya kembali proses perdamaian. Pada saat itu, ada banyak yang skeptis, dan tidak ada seorang pun yang peduli dengan upaya ini, selain anda, saya dan beberapa orang yang bekerja dengan visi tentang perlunya menangani masalah ini.
Saat ini, tragedi yang terjadi saat ini hanya mendorong kita untuk melipatgandakan upaya ini – demi kepentingan rakyat Palestina sehingga mereka akhirnya bisa hidup dalam kebebasan, perdamaian dan kemakmuran, dan bermartabat berdampingan dengan rakyat Israel, hidup dalam damai dan aman.
Itulah yang ingin kami lakukan. Andalkan Uni Eropa sebagai mitra yang dapat diprediksi dan dapat diandalkan, yang tetap dan akan terus bersama rakyat Palestina untuk menyelesaikan permasalahan ini – sesulit apa pun, lebih sulit saat ini dibandingkan kemarin.
Setidaknya, saat ini menjadi pemberitaan di halaman depan surat kabar seluruh dunia. Ini adalah momentum di mana hati nurani masyarakat internasional harus dimobilisasi untuk menghindari bencana yang lebih besar. Karena jika tidak ada perdamaian di Timur Tengah, kita juga tidak akan merasa aman di dalam negeri.
Terima kasih.