Program Uni Eropa membuka potensi ekonomi hijau di 99 desa di Indonesia
Program Uni Eropa membuka potensi ekonomi hijau di 99 desa di Indonesia
Uni Eropa, Yayasan Penabulu, Konsil LSM Indonesia dan KpSHK menggelar penutupan proyek “Promoting Green Economic Initiatives by Women and Youth Farmers in the Sustainable Agriculture Sector in Indonesia (ECHO Green)”. Proyek 3 tahun ini senilai lebih dari 1 juta euro membantu kelompok masyarakat yang terpinggirkan, terutama perempuan dan generasi muda tani, di tiga Kabupaten, yaitu Padang Pariaman (Sumatera Barat), Grobogan (Jawa Tengah), dan Lombok Timur (Nusa Tenggara Barat), menjangkau lebih dari 350.000 penerima manfaat langsung.
ECHO Green memperkenalkan inisiatif ekonomi hijau yang inklusif di sektor pertanian dengan pemberdayaan perempuan dan generasi muda tani tidak hanya pada aspek teknis pertanian, tetapi juga melalui peningkatan pemahaman pasar dan literasi bisnis pertanian.
ECHO Green telah menghasilkan 495 peta tematik di 99 desa yang terdiri dari potensi sumber daya alam desa, penggunaan lahan pertanian, kerentanan bencana, pengelolaan sumber daya air dan irigasi, serta area/kawasan bernilai konservasi tinggi.
Keberlanjutan ekonomi hijau diperkuat melalui 16 Peraturan Desa/Nagari (PerDes/PerNag) tentang tata ruang desa dan perencanaan penggunaan lahan yang inklusif dan dikeluarkannya 3 Surat Edaran Pemerintah Kabupaten untuk menjamin partisipasi perempuan dan generasi muda dan mendorong replikasi ekonomi hijau di tingkat kabupaten. Dengan demikian diharapkan prinsip ekonomi hijau akan tetap berlanjut dan berkembang melalui skema dan model lain yang layak diterapkan terutama oleh kelompok perempuan dan generasi muda tani.
Direktur Penabulu, Eko Komara menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Uni Eropa, “Terima kasih telah mendukung pembangunan ekonomi inklusif selama ini dan mendukung masyarakat sipil dalam semua aspek termasuk memastikan pemulihan yang hijau dan inklusif. Berkat komitmen inilah ECHO Green dapat menjadi proyek transisi menuju Ekonomi Hijau di tingkat lokal, khususnya di Kabupaten Padang Pariaman, Grobogan, dan Lombok Timur,” ujar Eko.
Pada kesempatan yang sama, Sekretaris Daerah Padang Pariaman Rudy Repenaldi Rilis, S.S.TP., MM menyampaikan apresiasinya kepada ECHO Green. “Pemerintah Kabupaten mendukung dan menyambut baik proyek ECHO Green dan berharap generasi muda dapat mensosialisasikan konsep ekonomi hijau ke tingkat yang lebih luas sehingga dapat mengatasi permasalahan pertanian, mengingat lebih dari 50 persen wilayah Padang Pariaman merupakan lahan pertanian sementara sebagian besar petani sudah berusia tua.”
Hal senada disampaikan oleh Drs. H.M. Juaini Taofik, M.AP, Sekretaris Daerah Lombok Timur, “Strategi dan konsep ECHO Green sejalan dengan apa yang telah direncanakan oleh Pemerintah Kabupaten Lombok Timur.” Lebih lanjut ia menyampaikan bahwa proyek ECHO Green telah membuka peluang kerja bagi perempuan dan generasi muda tani melalui inisiatif ekonomi hijau dan memberikan pelatihan untuk menjadi petani yang produktif dan berkelanjutan.
Sekretaris Daerah Grobogan Dr. Ir. Mohamad Sumarsono, M.Si mengatakan, “Kerja yang telah dilakukan oleh ECHO Green yang mendorong keterlibatan perempuan dan generasi muda tani perlu didukung dan direplikasi oleh pemerintah kabupaten. Pemerintah Kabupaten akan merancang rencana keberlanjutan program bersama instansi terkait dengan mereplikasi tahapan dan hasil yang telah dicapai oleh ECHO Green”.
“Proyek ECHO Green telah membantu meningkatkan produktivitas pertanian yang berkelanjutan serta pekerjaan yang layak,” kata Duta Besar Uni Eropa Vincent Piket. “Kami telah memberikan bantuan teknis kepada perempuan dan generasi muda tani di 99 desa di Kabupaten Padang Pariaman, Grobogan dan Lombok Timur, menjangkau lebih dari 350.000 penerima manfaat langsung. Proyek ini juga telah menghasilkan 495 peta tematik untuk membantu pemangku kepentingan desa melihat pola penggunaan lahan untuk implementasi kebijakan ekonomi dan sosial. Bagi saya ini adalah contoh yang sangat baik dari tujuan Uni Eropa untuk mendukung pembangunan berkelanjutan di Indonesia,” tambahnya.
Menandai berakhirnya proyek, Duta Besar Piket secara simbolis menyerahkan berbagai hasil proyek ECHO Green berupa Policy Brief Ekonomi Hijau Berbasis Desa dan Laporan Kajian Pertanian Hijau dan Potensi Pertumbuhan Ekonomi di Tingkat Kecamatan, serta contoh produk olahan hasil kelompok tani perempuan dan pemuda yang difasilitasi oleh proyek yaitu kacang mete, minyak kelapa murni (VCO), dan beras sehat.
Acara diakhiri dengan diskusi panel tentang ekonomi hijau dalam regulasi, pembiayaan dan program di Indonesia serta pameran berbagi praktik baik model ekonomi hijau di sektor pertanian.
ECHO Green Project
ECHO Green Project