Uni Eropa dan Humanity & Inclusion menyelesaikan proyek dua tahun untuk mendukung Respon dan Pemulihan COVID-19 dengan capaian yang memuaskan

Uni Eropa dan Humanity & Inclusion (HI) menggelar upacara penutupan proyek “I AM SAFE: Inclusive Access to Multi-Sectoral Services and Assistances for Everyone”. Proyek ini mendukung respon COVID-19 yang inklusif disabilitas serta mengatasi dampak sosial-ekonomi yang tidak proporsional pada kelompok rentan di Kupang dan Yogyakarta.

Uni Eropa dan Humanity & Inclusion menyelesaikan proyek dua tahun untuk mendukung Respon dan Pemulihan COVID-19 dengan capaian yang memuaskan

 

Uni Eropa dan Humanity & Inclusion (HI) menggelar upacara penutupan proyek “I AM SAFE: Inclusive Access to Multi-Sectoral Services and Assistances for Everyone”. Proyek ini mendukung respon COVID-19 yang inklusif disabilitas serta mengatasi dampak sosial-ekonomi yang tidak proporsional pada kelompok rentan di Kupang dan Yogyakarta.

Acara tersebut digelar secara virtual dan dihadiri oleh Wakil Walikota Yogyakarta, Bupati Kupang, dan perwakilan dari Kementerian Sosial, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS), Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI), organisasi penyandang disabilitas di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan DI Yogyakarta, akademisi, media, dan organisasi masyarakat sipil. UE diwakili oleh Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia.

Proyek I AM SAFE telah membuahkan hasil yang signifikan, antara lain:

  1. distribusi perlengkapan kebersihan kepada 4.000 rumah tangga (termasuk rumah tangga dengan perempuan sebagai kepala keluarga dan rumah tangga penyandang disabilitas) dan kampanye promosi kesehatan untuk mencegah penyebaran COVID-19;
  2. pendistribusian bantuan 23.500 masker kain untuk kelompok rentan dan 9.950 masker transparan untuk tunarungu, serta 5.647 paket alat pelindung diri (APD) untuk tenaga kesehatan;
  3. memberikan dukungan psikososial kepada 8.466 orang yang mengalami tekanan psikososial melalui layanan konseling online dan/atau kunjungan perawatan di rumah;
  4. penyelenggaraan 5 layanan telemedicine berkoordinasi dengan dinas kesehatan setempat yang telah memberikan konsultasi medis kepada 1.079 pasien;
  5. penyediaan alat bantu mobilitas untuk 418 orang yang membutuhkan, termasuk lansia dan penyandang disabilitas;
  6. penyaluran 6.000 paket gizi untuk keluarga berpenghasilan rendah, penyandang disabilitas, ibu hamil dan menyusui, serta lansia yang mengalami kerawanan pangan dan gizi;
  7. penyaluran bantuan tunai multiguna kepada 2.520 rumah tangga miskin dan rentan untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka;
  8. 2.000 usaha mikro dan Kelompok Usaha Bersama (KUBE) menerima pelatihan dan dana stimulus untuk membantu mereka agar dapat terus beroperasi;
  9. 750 rumah tangga menerima pelatihan tentang kesiapsiagaan bencana yang sangat penting untuk mengurangi risiko bencana dan membangun ketahanan;
  10. 166 organisasi kemanusiaan secara aktif terlibat dalam mengkampanyekan tanggap bencana yang inklusif; dan
  11. pengembangan kapasitas 30 Forum Desa/Kelurahan Tangguh Bencana untuk memiliki kemampuan beradaptasi dan menghadapi ancaman bencana, serta meningkatkan kapasitas kesiapsiagaan.

Dalam melaksanakan proyek I AM SAFE, HI bekerja sama dengan dua organisasi lokal: CIS Timor, sebuah organisasi yang bergerak di bidang pembangunan dan pemberdayaan masyarakat, dan SIGAB, sebuah organisasi yang secara aktif mengadvokasi hak-hak penyandang disabilitas.

“Berkat kerjasama yang kuat dengan pemerintah daerah setempat serta mitra kami: CIS Timor dan SIGAB, dan dengan dukungan dari Uni Eropa, proyek ini mencapai tujuan awalnya. Proyek ini penting untuk membatasi dampak ekonomi, sosial, psikologis dari krisis COVID-19 di daerah pelaksanaan proyek bagi populasi yang paling berisiko. Selaras dengan mandat dan nilai-nilai HI, pendekatan yang inklusif memungkinkan untuk melibatkan penyandang disabilitas dan berkontribusi untuk memastikan tidak ada yang tertinggal,” kata Marie-Catherine Mabrut, Regional Program Director HI Filipina & Indonesia. “Kami sangat berterima kasih kepada Uni Eropa atas dukungannya dan mitra serta pemerintah setempat atas komitmen dan kolaborasi mereka yang memungkinkan proyek ini sukses,” tambahnya.

Pada kesempatan yang sama, Bupati Gunungkidul, H. Sunaryanta menyampaikan apresiasinya atas pencapaian proyek. “Saya sangat mengapresiasi proyek I AM SAFE yang didanai oleh Uni Eropa di Kabupaten Gunungkidul. Proyek ini telah memberikan kontribusi besar terhadap pengurangan kemiskinan. Di Gunungkidul, sekitar 17,02% penduduknya masih hidup dalam kemiskinan. Kondisi ini semakin diperparah dengan adanya pandemi COVID-19. Pemerintah dan lembaga non-pemerintah perlu bekerja sama untuk memerangi kemiskinan dan pengucilan sosial. Semoga kerjasama yang telah terjalin dapat membawa manfaat positif bagi masyarakat khususnya kelompok rentan di Kabupaten Gunungkidul.”

Senada dengan itu, Bupati Kupang, Drs. Korinus Masneno, M.Si. menyatakan, “Atas nama Pemerintah Kabupaten Kupang, kami mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya atas proyek I AM SAFE. Kami sangat mengapresiasi proyek yang berdampak positif bagi kelompok rentan di Kabupaten Kupang ini. Proyek ini telah mendukung pemerintah dalam mencegah penyebaran COVID-19 dan meminimalkan dampak sosial dan ekonomi dari pandemi ini. Penghargaan setinggi-tingginya kami sampaikan kepada Uni Eropa yang bersedia mendanai proyek ini yang dilaksanakan oleh Humanity & Inclusion, SIGAB, dan CIS Timor.”

 “Proyek I AM SAFE merupakan bagian dari paket 'Team Europe' dengan total anggaran sebesar €200 juta (Rp3,5 triliun) untuk membantu Indonesia dalam menangani pandemi COVID-19 dan dampak ekonomi dan sosial yang ditimbulkannya, khususnya bagi masyarakat miskin dan kelompok rentan,” kata Duta Besar Uni Eropa Vincent Piket. “Proyek ini juga telah memberikan bantuan teknis kepada 2.000 UKM dengan fokus pada UKM milik perempuan untuk mengaktifkan kembali usaha mereka dengan strategi diversifikasi produk, pengembangan pasar, dan ekonomi digital. Kami berharap proyek ini akan meningkatkan mata pencaharian masyarakat yang berkelanjutan dan bermanfaat bagi lebih dari 2,9 juta warga di Yogyakarta dan NTT,” tambahnya.

Menandai berakhirnya proyek, Duta Besar Piket secara simbolis menyerahkan berbagai hasil proyek I AM SAFE berupa ringkasan kebijakan tanggap bencana inklusif, laporan survei psikososial dan poster layanan konsultasi psikososial, dan Direktori UKM di Yogyakarta dengan profil usaha untuk mempromosikan produk UKM secara efektif di tingkat lokal dan nasional.

Acara ditutup dengan berbagi praktik baik replikasi layanan psikososial di Sleman, tanggap bencana inklusif, dan pemberdayaan ekonomi. Diharapkan pembelajaran dan praktik baik yang dihasilkan proyek I AM SAFE dapat memberikan inspirasi, terutama dalam pemenuhan akses dan layanan yang inklusif, memastikan tidak ada yang tertinggal.